Keluarga Berkualitas melalui Penurunan Stunting

 Oleh: A.A.I.D. Cinthya Riris

Peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia dapat dicapai dengan adanya peningkatan status kesehatan dan gizi masyarakatnya. Salah satu faktor esensial dalam mewujudkan keberhasilan pembangunan suatu negara membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas baik termasuk fisik yang tangguh, mental yang kuat, dan kesehatan yang prima. Hal ini menjadi bagian dari target dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2016 – 2030 yaitu menghapuskan kelaparan dan segala bentuk kekurangan gizi pada 2030. Pemerintah Indonesia juga mengambil peran melalui agenda prioritas dalam hal penurunan stuntingStunting merupakan suatu kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga postur anak menjadi terlalu pendek untuk usianya. Stunting tidak hanya berkaitan dengan postur tubuh namun anak yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasar yang lebih rendah, lebih rentan terhadap penyakit, sehingga dapat mempengaruhi produktivitas dan kualitas hidup di masa depan.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan (2020), target penurunan balita stunting sebesar 24,1% namun baru terealisasi 11,6%. Sementara itu prevalensi balita yang mengalami stunting di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2018 masih pada angka 32,8 yang telah mengalami penurunan dari angka 35,8 pada tahun 2013. Meskipun angka penurunan balita stunting, perjuangan untuk memperbaiki gizi masih terus berlanjut untuk memutus dan menangani permasalahan stunting. Intervensi gizi spesifik dengan sasaran kelompok 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang terbukti efektif dapat mencegah terjadinya stunting jika cakupannya mencapai minimal 90%. Intervensi gizi spesifik meliputi: seplementasi zat gizi mikro pada ibu hamil, pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dengan masalah gizi, konseling dan promosi PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak), suplementasi zat gizi mikro pada balita, penanganan anak dengan masalah gizi akut (gizi buruk), dan pemantauan pertumbuhan.

Pencegahan stunting menjadi program prioritas untuk mewujudkan keluarga yang berkualitas. Keluarga berencana menjadi peluang dalam hal penurunan stunting. Konsep keluarga yang terencana tidak hanya seputar penggunaan alat kontrasepsi namun terhadap persiapan sepasang individu dalam membangun sebuah keluarga. Persiapan keluarga menjadi inovasi kegiatan yang dapat dilakukan untuk mencapai penurunan stunting. Pemahaman mengenai kesehatan reproduksi yang tepat dan perbaikan gizi sebelum hamil merupakan langkah awal untuk menangani masalah stunting.

Pemberdayaan masyarakat yang dimulai dari calon pengantin menjadi sangat penting untuk persiapan membangun keluarga. Dampak baik dari persiapan kehidupan berkeluarga tidak hanya dapat mencegah stunting namun juga penurunan angka kematian ibu dan balita (AKI dan AKB). Dasar dari pencegahan stunting adalah dengan memutus rantai faktor pemicu stunting dan hal ini dimulai sejak pra-konsepsi. Periode emas 1000 Hari Pertama Kehidupan harus diperhatikan bersama dan memerlukan bantuan dari berbagai pihak. Keluarga menjadi pendukung utama perlu dibekali pemahaman yang tepat mengenai kesehatan reproduksi yang sehat, pemenuhan asupan gizi dari sebelum hamil, masa kehamilan, hingga setelah melahirkan. Dukungan pemerintah melalui penguatan program dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan yang memahami serta bergerak dalam penurunan stunting. Faktor lain seperti pola asuh yang keliru, sanitasi dan lingkungan yang buruk juga perlu dieliminasi untuk mencegah stunting.

Kerjasama dalam keluarga melalui dukungan fisik dan mental akan didapatkan bila telah keluarga telah dibekali dengan informasi yang tepat. Akses informasi dipermudah melalui adanya tim pendamping pencegahan stunting di setiap kelurahan. Tim pendamping pencegahan stunting yang terdiri dari tenaga kesehatan dan kader kesehatan di setiap kelurahan diharapkan mampu menyampaikan informasi dengan lebih akurat sehingga percepatan penurunan angka stunting dapat dicapai. Koordinasi yang baik sangat dibutuhkan baik dari dinas terkait dengan tim di lapangan, sehingga informasi yang diterima oleh masyarakat adalah informasi kesehatan yang tepat, bermanfaat, dan berdaya guna demi mencapai penurunan stunting dan mewujudkan keluarga yang berkualitas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

When my first coffee was Affogato…

Langit Merah Pertama di Sampang