PENGARUH PSIKONEUROIMUNOLOGI TERHADAP HIV / AIDS
Oleh: A.A. Istri Dalem Cinthya Riris
Penyakit menular Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)
yang disebabkan oleh Human
Immunodeficiency Virus (HIV) telah sejak lama menjadi beban kesehatan di
berbagai belahan dunia. Penanganan dalam mencegah penularan maupun pengobatan
terus dikembangkan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Data menunjukkan bahwa
populasi terbesar di dunia yang terinfeksi HIV adalah di benua Afrika (25,7
juta orang), selanjutnya di Asia Tenggara (3,8 juta orang), dan di Amerika (3,5
juta orang). Indonesia, penderita terinfeksi HIV sejumlah 50.282 orang dan
penderita AIDS sebanyak 7.036 orang pada tahun 2019 (Kemenkes, 2020). Penderita
HIV / AIDS mengalami berbagai masalah baik kesehatan maupun sosial ekonomi. Pada
tahun 2019, sejumlah 38 juta orang yang terinfeksi HIV dan sebanyak 500.000
meninggal akibat AIDS (UNAIDS, 2020). Menurut data menyebutkan bahwa 4,4% dari
seluruh populasi terinfeksi HIV menderika akibat mengalami depresi (WHO, 2017).
Upaya pencegahan dan
pengendalian penyakit menular di Indonesia memerlukan peran serta dari berbagai
pihak sebagai dapat menurunkan HIV / AIDS. Perkembangan pengobatan untuk
meningkatkan kualitas hidup penderita HIV / AIDS terus dilakukan, salah satunya
adalah bidang psikoneuroimunologi. Pendekatan psikoneuroimunologi merupakan suatu
integrasi fungsi otak dan sistem imun untuk mempertahankan homeostasis. Faktor
psikologis mempengaruhi sistem kekebalan dan fisik kesehatan melalui jalur
saraf dan endokrinologi. Hubungan yang saling berkaitan tersebut sehingga
sangat relevan dengan masalah kesehatan imunologi, termasuk pada penyakit
menular (Lerner et al., 2013). Pada
Orang yang Hidup dengan HIV / AIDS (ODHA), gejala depresi tidak hanya sangat umum
terjadi, namun dampaknya juga beragam. Akibat mengalami depresi akan
menimbulkan konsekuensi yang membahayakan bagi ODHA. ODHA dengan depresi dua kali
lebih mungkin memiliki kepatuhan pengobatan yang buruk dibandingkan mereka yang
tidak depresi. Gejala depresi juga dapat merusak sistem kekebalan, sehingga
berdampak negatif dan menurunkan kesehatan. Konsekuensi depresi lainnya pada
ODHA dapat lebih berbahaya bagi masyarakat karena berisiko lebih tinggi untuk
menularkan AIDS, penyalahgunaan narkoba, dan perilaku seksual yang tidak aman
(Liu et al., 2018).
Penderita HIV yang
telah mendapatkan pengobatan Anti-Retroviral
(ARV) tidak dapat menjamin ketahanan sistem imun. Tekanan secara sosial maupun
psikologi dapat mempengaruhi kesehatan penderita. Pasien terinfeksi HIV yang
mengalami stres psikososial-spiritual akan lebih cepat menjadi AIDS. Hal ini
dapat meningkatkan angka kematian penderita karena stres yang berkelanjutan
dapat menurunkan sistem imun. Penurunan sistem imunitas tubuh penderita HIV
akan berdampak buruk dan memperparah kondisi penderita sehingga mempercepat
terjadi AIDS (Nursalam, 2011). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa pasien
terinfeksi HIV yang mengalami depresi berisiko 10,35 kali untuk memiliki
kualitas hidup kurang baik dibanding dengan pasien HIV yang tidak depresi
(Kusuma, 2016).
Pendekatan terhadap
ODHA sangat penting untuk dapat meningkatkan kualitas hidup penderita. Motivasi
ODHA dengan peningkatan aspek fisik, emosional, sosial, dan spiritual.
Pengobatan secara fisik dan pendampingan melalui pendekatan psikoneuroimunologi
diharapkan dapat meningkatkan kualitas hidup penderita HIV / AIDS (Jayani dan
Ruffaida, 2020). ODHA yang menerima pengobatan memiliki harapan hidup yang
hampir setinggi individu yang tidak terinfeksi. Hal ini berarti ODHA mengalami
gejala yang berkepanjangan terkait dengan perjalanan penyakit dan pengobatan.
Pertimbangan mengenai harapan hidup yang lebih lama, perawatan dan pengobatan ODHA
harus fokus tidak hanya pada pengobatan lanjutan dan peningkatan pengobatan tetapi
juga pada kualitas hidup individu. ODHA dengan kualitas hidup terkait kesehatan
yang rendah memiliki prevalensi depresi yang lebih tinggi terhadap populasi
umum yang tidak terinfeksi HIV. Kualitas kesehatan yang rendah dikaitkan dengan
hasil klinis yang buruk sehingga juga memiliki jumlah CD4 yang lebih rendah. Artinya,
intervensi dirancang untuk mengelola stres dan meningkatkan kualitas hidup
harus menjadi komponen penting yang komprehensif dalam perawatan ODHA
(Scott-Sheldon et al., 2019). Hasil
penelitian lain juga mendukung bahwa model psikoneuroimunologi untuk ODHA yakni
ketika tekanan psikologis membaik, fungsi neuroendokrin mengalami peningkatan.
Perbaikan seperti itu terkait dengan normalisasi parsial fungsi sistem
kekebalan tubuh yang mungkin mengatur replikasi HIV dan / atau risiko infeksi
oportunistik dan menyebabkan penurunan jumlah virus, serta ekspresi gejala
klinis fisik. Beberapa metode intervensi klinis berbasis psikoneuroimunologi menunjukkan
penurunan proses inflamasi yang mempengaruhi hasil kesehatan di antara ODHA
(Glynn et al., 2019).
Pendekatan
psikoneuroimunologi hingga saat ini masih terus dikembangkan dan memerlukan penelitian
berkelanjutan. Penerapan pendekatan psikoneuroimunologi pada pasien HIV / AIDS
diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup penderita. Peran serta keluarga
dan orang terdekat akan mempengaruhi keberhasilan pengobatan. Penderita yang
telah mendapatkan obat namun mengalami tekanan memiliki kualitas kesehatan yang
lebih rendah daripada yang mendapatkan dukungan positif. Psikoneuroimunologi
berkaitan erat dengan perspsi tubuh terhadap pemicu stres. Utamanya bagi
penderita HIV / AIDS, regulasi fungsi otak dalam mengatur sistem imunitas tubuh
dapat mempertahankan homeostasis dan meningkatkan kesehatan serta kualitas
hidup penderita HIV / AIDS.
Referensi
Glynn
T.R., Liabre M.M., Lee J.S., Bedoya C.A., Pinkston M.M., O’Cleirigh C., and
Safren S.A. 2019. ‘Pathways to health: an examination of HIV-related stigma, life
stressors, depression, and substance use’. International Journal of Behavioral
Medicine. 26: 286-296.
Jayani
I dan Ruffaida F.S. 2020. ‘Pengaruh pendekatan melalui konseling interpersonal
terhadap respon sosial, emosional dan spiritual pada pasien HIV/AIDS’. Jurnal
Ilmiah Ilmu Kesehatan. 8 (1): 62-73.
Kemenkes.
2020. ‘InfoDatin AIDS 2020’. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kusuma
H. 2016. ‘Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien HIV / AIDS yang
menjalani perawatan di RSUPN Cipto Mangunkusumo’. Media Medika Muda. 1 (2):
115-123.
Lerner
R., Kibler J.L., and Zeichner S.B. 2013. ‘Relationship between
mindfulness-based stress reduction and immune function in cancer and HIV/AIDS’.
Cancer and Clinical Oncology. 2 (1): 62-72.
Liu
H., Zhao M., Ren J., Qi X., Sun H., Qu L., Yan C., Zheng T., Wu Q., and Cui Y.
2018. ‘Identifying factors associated with depression among men living with
HIV/ AIDS and undergoing antiretroviral therapy: a cross-sectional study in
Heilongjiang, China’. Health and Quality of Life Outcomes. 16 (190): 1-10.
Nursalam.
2011. ‘Model asuhan keperawatan terhadap peningkatan adaptasi kognisi dan
biologis pada pasien terinveksi HIV’. Jurnal Ners. 6 (2): 113-125.
Scott-Sheldon
L.A.J., Balletto B.L., Donahue M.L., Feulner M.M., Cruess D.G.,
Salmoirago-Blotcher E., Wing R.R., and Carey M.P. 2019. ‘Mindfulness‑based
interventions for adults living with HIV/AIDS: a systematic review and
meta‑analysis’. AIDS and Behavior. 23: 60-75.
UNAIDS.
2020. ‘UNAIDS data 2020. Switzerland: United Nations Programme on HIV/AIDS.
WHO. 2017. ‘Depression and other common mental disorders global health estimates’. Switzerland: World Health Organization.
Keren ulasanya kak
BalasHapus