Apresiasi kepada BPJS Kesehatan
(AAID Cinthya Riris)
Ungkapan rasa terima kasih terhadap salah satu fasilitas kesehatan yang dimiliki Indonesia tercinta. Badan Penyelenggaraa Jaminan Sosial (BPJS Kesehatan) yang telah terbentuk pada tanggal 31 Desember 2013. Badan pemerintahan ini mulai aktif pada tanggal 1 Januari 2014 dengan tujuan meringankan beban kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu. Ide mulia tersebut dengan maksud masyarakat dengan kemampuan finansial lebih tinggi membantu masyarakat ekonomi lemah. Pelayanan kesehatan diberikan baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama hingga rumah sakit umum pusat di daerah masing-masing. Prinsip yang dijunjung oleh BPJS Kesehatan adalah iuran dari masing-masing peserta kesehatan menjadi penopang bila ada yang memerlukan, terutama dari kalangan masyarakat kurang mampu. Peserta BPJS terdiri dari setiap lapisan masyarakat, baik dari pegawai pemerintahan, pekerja swasta, dan lainnya. Biaya iuran BPJS Kesehatan ada yang dibayarkan secara mandiri dengan pembagia kelas I, II, dan III. Adapula iuran BPJS Kesehatan yang disubsidi pembayarannya oleh pemerintah, golongan ini termasuk kelas III dan khusus untuk masyarakat dengan ekonomi tidak mampu.
Setiap peserta BPJS Kesehatan pasti memiliki
berbagai pengalaman menarik dan menerima manfaat dari iuran yang telah
dibayarkan. Tulisan ini menggambarkan pengalaman pribadi selama menjadi peserta
BPJS Kesehatan mandiri. Terdaftar sebagai peserta sejak awal tahun 2014 dan
secara ruting membayar iuran sebelum tanggal 10 setiap bulannya. Pertama kali
menggunakan BPJS Kesehatan pertengahan tahun 2015, ketika Ayah mengalami demam
berdarah dengue (DBD) sehingga harus dirawat di rumah sakit. Ketika itu BPJS
Kesehatan yang dimiliki adalah kelas II dan dapat dinaikkan ke kelas I. Selama
perawatan tidak ada perbedaan antara pasien umum dan pasien BPJS, begitu pula
dengan pengobatan yang diberikan. Perawatan selama 6 hari di rumah sakit bila
dibayar penuh sendiri tentu saja sangat mahal dan sulit untuk dijangkau, namun
dengan adanya BPJS Kesehatan, setelah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan
pulang ke rumah, pembayaran tetap dilakukan karena ada peningkatan kelas, namun
hanya selisihnya yang dibayarkan. Hal ini tentu sangat membantu meringankan
beban keluarga karena selain biaya rumah sakit keluarga yang menemani juga
harus merelakan untuk cuti tidak bekerja dan kebutuhan lainnya yang juga harus
tetap disediakan.
Pengalaman kedua pada
akhir tahun 2017, merasakan lagi manfaat dari BPJS Kesehatan adalah saat mengetahui
kalau mata ini ternyata lelah dan tidak dapat melihat dari jarak jauh. Berbeda
dengan yang pertama, saat ini tidak perlu dirawat inap. Perbedaannya untuk
memeriksakan mata perlu mendapatkan rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat I.
Surat rujukan di bawa ke rumah sakit daerah sebagai fasilitas kesehatan tingkat
II untuk dilakukan pemeriksaan mata. Hasilnya adalah mata ini minus dan juga
silinder, beruntungnya tidak parah. Alasan mata ini memerlukan bantuan
kacamata. Banyak orang yang mengeluh ketika menggunakan BPJS Kesehatan untuk
mencari kacamata namun tetap bayar mahal. Berbeda dengan kacamata yang telah
saya gunakan saat ini. Kacamata ini tentu dari manfaat BPJS Kesehatan dan tidak
ada biaya tambahan apapun. Poin penting dalam hal ini adalah ketika menggunakan
manfaat BPJS Kesehatan sesuai kelas kita tidak akan dikenakan biaya tambahan
lainnya.
Pada tahun 2020
pertengahan, selain karena adanya pandemic Covid-19 ada hal lain yang membuat
kami bersyukur menjadi peserta BPJS Kesehatan. Saat itu Ibu mengalami sesak dan
dibawa ke rumah sakit, setelah diobati dan dirawat dikatakan bahwa sakit karena
asam lambung. Setelah keluar dari rumah sakit, hanya dua hari di rumah dan
harus kembali ke rumah sakit karena sesak kembali dan dinyatakan hipoglikemia.
Setelah sehari dirawat dan boleh pulang, kemudian empat hari kemudian masuk
rumah sakit lagi karena sesak dan kaki bengkak. Perawatan selama 6 hari
akhirnya membaik dan diperbolehkan pulang. Setelah satu minggu di rumah
ternyata kembali sesak dan harus segera ke rumah sakit kembali. Saat itu karena
mengarah ke penyakit jantung akhirnya dirujuk ke rumah sakit umum pusat daerah.
Pemeriksaan dan observasi dilakukan di pelayanan jantung terpadu. Pada saat itu
baru kemudian diketahui bahwa ada masalah di katup jantung sehingga tidak dapat
memompa dengan optimal. Perawatan dan pengobatan yang tepat selama lima hari
dan diperbolehkan pulang ke rumah serta tetap melakukan rawat jalan.
Setiap pengalaman
tersebut memberikan pelajaran berharga, terutama dalam menjaga kesehatan.
Kesehatan tidak hanya fisik, tetapi juga mental dan sosial. Fisik yang sehat
dengan menjaga makanan yang bergizi, rajin minum air putih, dan berolahraga.
Sosial dengan memiliki hubungan yang baik dengan lingkungan sekitar dan saling
mendukung bila diperlukan, terutama dari orang terdekat. Mental sangat jarang
diperhatikan karena dianggap sangat kecil dan sulit dipahami. Satu hal penting
adalah stres akan sangat mempengaruhi kesehatan mental dan berdampak buruk bagi
fisik serta sosial.
Rasa syukur ketika memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan dan telah merasakan berbagai manfaatnya. Hal lain yang perlu dihayati adalah dengan menjadi peserta BPJS Kesehatan dan membayar iuran secara rutin adalah kita dapat membantu kegiatan gotong royong untuk meringankan beban kesehatan masyarakat ekonomi tidak mampu dan bila memerlukan kita sendiri pun akan mendapatkan manfaat baiknya. Peserta BPJS Kesehatan belum sepenuhnya menyadari pentingnya membayar iuran secara rutin, karena berbagai permasalahan dan rumor yang beredar. Namun, ketika kita mengalaminya sendiri, merasakan manfaatnya, maka kita akan mampu menyadari bahwa negara Indonesia tengah berjuang untuk mengoptimalkan kesehatan masyaratkatnya dengan sistem gotong royong. Ketika kita tidak pernah sakit, apakah artinya kita rugi telah membayar iuran BPJS Kesehatan? Jawabannya tentu tidak, karena saya masih percaya bahwa setiap orang ingin selalu dalam keadaan sehat. Artinya, bila kita telah membayar iuran secara rutih dan selalu diberikan kesehatan, maka bersyukurlah karena kita telah membantu, meskipun tidak banyak, terutama untuk saudara kita yang tidak mampu untuk membiayai kesehatannya secara mandiri.
Some stories of
right and wrong, and how sometimes they look the same…
Setuju sekali dengan penulis
BalasHapusTerima kasih nggih
HapusKereen ulasannya kak
BalasHapusTerima kasih uni
Hapus